MUNCULNYA HADIS DHA’IF DAN PALSU

 



Abu Fatwa Albani
( S A M S U D I N )

Ketahuilah bahwa para perawi yang dalam hadis mereka terdapat kepalsuan, kedustaan, dan ketertukaran terbagi menjadi lima bagian :

Bagian I :

Orang-orang yang didominasi oleh zuhud dan asketisme sehingga mereka lalai dalam menghafal dan membedakan riwayat. Sebagian dari mereka kehilangan buku-bukunya, terbakar, atau terkubur, lalu mereka meriwayatkan dari hafalan sehingga terjadi banyak kesalahan.

Bagian II :

Orang-orang yang tidak memiliki keahlian dalam transmisi (nukilan) sehingga kesalahan mereka menjadi banyak dan buruk, mirip dengan bagian pertama.

Bagian III :

Orang-orang terpercaya (tsiqah) namun akal mereka bercampur baur (pikun) di akhir hayatnya, sehingga mereka mengacaukan riwayat.

Bagian IV : 

Orang-orang yang didominasi oleh kepolosan, yang di antaranya mudah didikte (talaqin) sehingga mengatakan apa saja yang disuruh. Sebagian dari mereka meriwayatkan hadis yang tidak pernah didengarnya karena menganggap itu boleh.

Bagian V: 

Orang-orang yang sengaja berbohong, yang terbagi lagi menjadi beberapa kelompok:

1. Mereka yang meriwayatkan kesalahan tanpa tahu itu salah, namun setelah tahu kebenarannya, mereka tetap bersikeras pada kesalahan karena enggan dianggap salah.

2. Mereka yang meriwayatkan dari para pendusta dan perawi lemah yang mereka ketahui, lalu menyamarkan (tadlis) nama-nama mereka. Perbuatan ini menempatkan mereka dalam tingkatan para pendusta. Berdasarkan riwayat yang shahih dari Nabi bersabda : siapa yang meriwayatkan dariku suatu hadis yang ia duga bahwa itu adalah bohong, maka ia adalah salah satu dari para pendusta. Dan termasuk bagian ini adalah kaum yang meriwayatkan dari kaum lainnya seperti Ibrahim bin  Hadbah dari Anas. Di Wasit, ada seorang syekh yang meriwayatkan dari Anas dan Syarik. Ketika dia meriwayatkan dari Anas, ditanyakan kepadanya: "Mungkin engkau mendengarnya dari Syarik?" Dia menjawab: "Aku berkata jujur kepada kalian, aku mendengar ini dari Anas dari Syarik."

Abdullah bin Ishaq al-Kirmani meriwayatkan dari Muhammad bin Abi Ya'qub, lalu dikatakan kepadanya: "Muhammad wafat sembilan tahun sebelum engkau lahir."

Muhammad bin Hatim al-Kutubi meriwayatkan dari Abad bin Humaid, lalu Abu Abdullah al-Hakim berkata: "Syekh ini mendengar dari Abad bin Humaid tiga belas tahun setelah kematiannya."

3. Orang-orang yang sengaja melakukan kebohongan yang nyata, bukan karena mereka salah atau meriwayatkan dari seorang pembohong. Mereka terkadang berbohong dalam sanad dengan meriwayatkan dari orang yang tidak pernah mereka dengar darinya, terkadang mencuri hadis yang diriwayatkan orang lain, dan terkadang menggabungkan hadis-hadis. Para pemalsu (al-Wadhdha'un) ini terbagi menjadi tujuh golongan :

Golongan 1 : 

Kaum Zindiq yang bertujuan merusak syariat, menimbulkan keraguan di hati orang awam, dan mempermainkan agama.

Contohnya adalah Abdul Karim bin Abi al-Arja. Dia adalah paman dari Ma'n bin Za'idah dan anak tiri Hammad bin Salamah. Dia biasa menyisipkan hadis-hadis palsu ke dalam buku-buku Hammad.

Ketika Ibnu Abi al-Arja ditangkap dan dibawa ke hadapan Muhammad bin Sulaiman bin Ali, dia diperintahkan untuk dihukum pancung. Saat dia yakin akan dibunuh, dia berkata: "Demi Allah, aku telah memalsukan di antara kalian empat ribu (4.000) hadis yang mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram. Aku telah membuat kalian berbuka pada hari puasa kalian dan berpuasa pada hari raya kalian."Ia berkata: Aku mendengar Al-Mahdi berkata: Seseorang dari golongan Zindik mengakui di hadapanku bahwa ia telah membuat empat ratus hadis yang kini beredar di tangan masyarakat.

Penulis berkata: Di antara pembuat hadis palsu adalah Mughirah bin Sa'id dan Bayan. Ibnu Numair berkata: Mughirah adalah seorang penyihir, dan Bayan adalah seorang zindik; maka Khalid bin Abdullah al-Qasri membunuh dan membakar keduanya dengan api. Di antara kaum Zindik tersebut ada yang menyusupkan ke dalam kitab seorang syekh apa yang bukan merupakan hadisnya, lalu syekh tersebut meriwayatkannya karena mengira itu adalah hadisnya.

Hammad bin Zaid berkata: Kaum Zindik telah membuat empat belas ribu (14.000) hadis palsu atas nama Rasulullah SAW.

Golongan 2 :

Kaum yang sengaja melakukan pemalsuan hadis demi membela mazhab (sekte) mereka, dan setan membisikkan kepada mereka bahwa hal itu diperbolehkan; hal ini disebutkan mengenai kaum dari Al-Masalimiyyah.

Kami diberitahu oleh Abu Manshur bin Jabrun, dari Abu Muhammad al-Jauhari, dari al-Daraqutni, dari Abu Hatim bin Hibban al-Hafiz, ia berkata: Aku mendengar Abdullah bin Ali berkata: Aku mendengar Muhammad bin Ahmad bin al-Junaid berkata: Aku mendengar Abdullah bin Yazid al-Muqri berkata mengenai seorang laki-laki ahli bidah yang telah bertaubat dari kebidahannya, ia mulai berkata:

"Perhatikanlah hadis ini dari siapa kalian mengambilnya, karena sesungguhnya kami dahulu jika memiliki suatu pendapat, kami membuatkan hadis untuknya."

Kami diberitahu oleh Abu Bakar Muhammad bin Abdul Baqi al-Bazzar, ia berkata: Kami diberitahu oleh Abu Muhammad al-Jauhari, ia berkata: Kami diberitahu oleh Ibrahim bin Ahmad al-Harfi, ia berkata: Kami diberitahu oleh Ja'far bin Muhammad al-Firyabi, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Yusuf bin al-Faraj Abu Nu'aim al-Halabi dan Ishaq bin al-Bahlul al-Anbari, mereka berkata: Kami diberitahu oleh Abdullah bin Yazid al-Muqri, ia berkata: Kami diberitahu oleh Ibnu Lahi'ah, ia berkata: "Aku mendengar seorang tetua dari kaum Khawarij yang telah bertaubat dan kembali (ke jalan yang benar) dan ia mengatakan bahwa sesungguhnya hadis-hadis itu adalah agama, maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian. Karena sesungguhnya kami, jika kami menyukai suatu perkara, kami menjadikannya sebuah hadis.

Abu Muhammad al-Samarqandi memberi tahu kami, Abu Bakar bin Thabit al-Khatib memberi tahu kami dari Hammad bin Salamah, dia berkata: Seorang syekh dari mereka—yaitu kaum Rafidhah—berkata kepada kami: "Dahulu kami jika berkumpul dan menyukai sesuatu, kami menjadikannya sebuah hadis."

Kami dikabari oleh Muhammad bin Nashir al-Hafidz dari Abu Bakar bin Khalaf al-Syirazi, ia berkata: Aku mendengar al-Hakim Abu Abdullah al-Naisaburi berkata: Muhammad bin Qasim al-Thalkani, dia termasuk pemimpin kaum Murji'ah dan termasuk orang yang memalsukan hadis berdasarkan mazhab mereka. Kami dikabari oleh Abu al-Mu'ammar, ia berkata: Kami dikabari oleh Abdullah bin Ahmad al-Samarqandi, ia berkata: Kami dikabari oleh Abu Bakar bin Ali bin Tsabit, ia berkata: Kami dikabari oleh Hakim Abu al-Hasan Ali bin Muhammad bin Habib, ia berkata: Kami dikabari oleh Muhammad bin al-Mu'alla al-Azdi, ia berkata: Kami dikabari oleh Muhammad bin Hamdan, ia berkata: Kami dikabari oleh Abu al-Aina' dari Abu Anas al-Harrani, ia berkata:

Al-Mukhtar berkata kepada seorang ahli hadis: "Buatkanlah untukku sebuah hadis dari Nabi SAW yang menyatakan bahwa akan ada seorang khalifah setelah beliau yang menuntut balas atas kematian putranya (keturunannya), dan ini untukmu sepuluh ribu dirham, jubah kebesaran, kendaraan, dan seorang pelayan." Orang itu menjawab: "Adapun (memalsukan) atas nama Nabi SAW, maka tidak. Namun pilihlah siapa saja yang engkau mau dari kalangan sahabat, dan aku akan memberimu potongan harga." Al-Mukhtar berkata: "Dari Nabi SAW lebih kuat." Orang itu menjawab: "Namun azabnya (di akhirat) juga lebih berat."

Golongan 3 :

 Kaum yang memalsukan hadis dalam hal targhib (motivasi kebaikan) dan tarhib (ancaman keburukan) untuk mendorong manusia berbuat baik dan mencegah mereka dari kejahatan. 

Ini adalah tindakan melampaui batas terhadap syariat, dan implikasi dari perbuatan mereka adalah menganggap syariat itu kurang dan butuh penyempurnaan, sehingga mereka pun "menyempurnakannya".

Ismail bin Ahmad al-Samarqandi mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ismail bin Abil Fadhl al-Isma'ili mengabarkan kepada kami, ia berkata: Hamzah bin Yusuf al-Sahmi mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Ahmad bin 'Adi mengabarkan kepada kami, ia berkata: Saya mendengar Abu Abdillah al-Nahawandi berkata: Saya bertanya kepada Gulam Khalil: "Hadis-hadis tentang kelembutan hati (al-raqa'iq) yang Anda sampaikan ini dari mana?", ia menjawab: "Kami yang membuatnya agar hati orang awam menjadi lembut."

Abu Mansur Abdurrahman bin Muhammad al-Qazzaz mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Bakar Ahmad bin Ali bin Thabit mengabarkan kepada kami, ia berkata: Al-Hasan bin Ali al-Tamimi menceritakan kepadaku, ia berkata: Saya membacakan kepada Abu Bakar Muhammad bin al-Hasan al-Muqri, ia berkata: Abu Ja'far bin al-Syumairi berkata kepadaku: Ketika Gulam Khalil meriwayatkan dari Bakr bin Isa dari Abu 'Awanah, aku katakan padanya: "Wahai Abu Abdillah, orang ini (Bakr bin Isa) sudah lama wafat, Anda tidak sempat bertemu dengannya, begitu pula orang seusia Anda." Ia sempat terdiam sejenak lalu menangis. Aku katakan lagi: "Mungkin Anda mendengar dari seseorang bernama Bakr bin Isa yang lain?" Esoknya ia berkata: "Tadi malam aku memeriksa, ternyata ada enam puluh orang bernama Bakr bin Isa di Basra."

Penulis (Al-Mushannif) berkata: Gulam Khalil menampakkan sikap zuhud dan mencela syahwat dunia demi tasawuf. Pasar-pasar di Bagdad bahkan tutup pada hari kematiannya, dan penguasa memuji tindakannya tersebut. Kita memohon keselamatan kepada Allah.

Abu Mansur bin Khairun mengabarkan kepada kami dari Abu Muhammad al-Jauhari dari  al-Daraqutni, dari Abu Hatim bin Hibban al-Hafizh, ia berkata: Aku mendengar Abdullah bin Jabir berkata: Aku mendengar Ja'far bin Muhammad al-Adin berkata: Aku mendengar Muhammad bin Isa al-Tabba' berkata: Aku mendengar Ibnu Mahdi bertanya kepada Maysarah bin Abdu Rabbih: "Dari mana kamu mendapatkan hadis-hadis ini: 'Barangsiapa membaca ini maka baginya (pahala) ini'?" Ia menjawab: "Aku yang membuatnya agar orang-orang berminat melakukannya."

Ibnu Hibban berkata: Dan Makhul menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu al-Husain al-Rahawi menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku bertanya kepada Abdul Jabbar bin Muhammad tentang Abu Daud al-Nakha'i, maka ia berkata: Dia adalah orang yang paling rajin shalat malam dan paling banyak berpuasa di siang hari, namun ia sering memalsukan hadis.

Ibnu Hibban berkata: Abu Bisyr Ahmad bin Muhammad al-Faqih al-Marwazi termasuk orang yang paling teguh memegang sunnah di zamannya, paling membela sunnah, dan paling keras terhadap penyelisihnya, namun di samping itu ia memalsukan hadis. Ia telah memalsukan sekitar empat puluh (40) hadis tentang keutamaan Qazwain, dan ia berkata, "Aku mengharap pahala dalam hal itu."

Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bib Nashir al-Hafiz, telah mengabarkan kepada kami Abu Bakar bin Khalaf asy-Syairazi, dari dari Abu Abdillah al-Hakim berkata, aku mendengar Abu Ali al-Hafidz berkata, aku mendengar Muhammad bin Yunus al-Muqri berkata, aku mendengar Ja'far bin Ahmad bin Nashr berkata, aku mendengar Abu Ammar al-Marwazi berkata: Dikatakan kepada Abu Ismah Nuh bin Abi Maryam al-Marwazi, "Dari mana engkau mendapatkan (riwayat) dari Ikrimah dari Ibnu Abbas tentang keutamaan Al-Qur'an surah demi surah, padahal itu tidak ada pada murid-murid Ikrimah yang lain?" Ia menjawab, "Sesungguhnya aku melihat orang-orang berpaling dari Al-Qur'an dan sibuk dengan fikih Abu Hanifah serta peperangan (Maghazi) Ibnu Ishaq, maka aku pun memalsukan hadis ini demi mengharap pahala (hisbah)." dan sungguh Muammal bin Ismail telah menghikayatkan bahwa ada seseorang yang telah memalsukan hadis tentang fadhilah al-Qur’an secara panjang. Dan akan datang nanti pada bab ilmu insya Allah.

Ismail bin Ahmad mengabarkan kepada kami, Abu al-Qasim al-Ismaili mengabarkan kepada kami, Hamzah al-Sahmi mengabarkan kepada kami, Abu Ahmad bin Adi mengabarkan kepada kami, saya mendengar Aba Badr Ahmad bin Khalid berkata: "Wahb bin Hafs termasuk orang-orang saleh, ia berdiam diri selama dua puluh tahun tanpa berbicara kepada siapa pun." Abu Arubah berkata: "Dan ia telah melakukan kebohongan yang sangat keji."

Abu al-Ma'mar al-Anshari mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Muhammad bin al-Samarqandi mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Bakar bin Thabit mengabarkan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Ja'far bin Allan mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu al-Fath Muhammad bin al-Husain al-Azdi mengabarkan kepada kami, Husain bin Muhammad menceritakan kepada kami, Ubaidillah bin Umar al-Nawarizi menceritakan kepada kami, ia berkata: Saya mendengar Yahya bin Said al-Qattan berkata: "Saya tidak melihat kebohongan pada diri seseorang yang lebih banyak daripada yang ada pada orang yang menyandarkan diri pada kebaikan dan zuhud."

Golongan 4 :

Kaum yang membolehkan pembuatan sanad untuk setiap perkataan yang baik.

Abdul Wahhab Al-Hafiz berkata, Ibnu Bakran Al-Qadi mengabarkan kepada kami, Al-Haqiqi mengabarkan kepada kami, Yusuf bin Ad-Dakhil menceritakan kepada kami, Abu Ja'far Al-Muqili menceritakan kepada kami, Ahmad bin Muhammad bin Sadaqah menceritakan kepada kami, Abu Zur'ah Ad-Dimasyqi menceritakan kepada kami, Muhammad bin Khalid menceritakan kepada kami dari ayahnya, dia berkata saya mendengar Muhammad bin Said berkata: "Tidak masalah jika perkataan itu baik untuk dibuatkan sanadnya."

Golongan 5 :

Kaum yang mengalami suatu hal lalu mereka memalsukan hadis. 

Di antara mereka ada yang bermaksud mendekatkan diri kepada penguasa dengan mendukung tujuannya.

Seperti Ibnu Abi Yahya. Ketika dia dibawa menghadap Al-Mahdi, dan Al-Mahdi menyukai merpati, di depannya ada merpati, lalu dikatakan kepadanya, "Ceritakanlah kepada Amirul Mukminin sebuah hadis." Dia berkata, "Fulan menceritakan kepada kami dari fulan bahwa Nabi SAW bersabda: 'Tidak ada perlombaan kecuali dalam panah, atau sepatu kuda, atau kuku kuda, atau sayap'." Al-Mahdi memberinya kantong uang. Ketika dia pergi, Al-Mahdi berkata, "Saksikanlah terhadapku bahwa dia adalah pendusta atas Rasulullah SAW." Al-Mahdi berkata, "Saya yang mendorongnya untuk itu." Kemudian dia memerintahkan untuk menyembelih merpati dan meninggalkan apa yang ada padanya. Di antara mereka ada yang memalsukan hadis sebagai jawaban bagi yang bertanya kepadanya, seperti yang diriwayatkan Al-Mu'ithi dari Ibrahim bin Abi Yahya bahwa dia ditanya tentang seorang pria yang memberikan benang pakan kepada penenun, lalu penenun menenunnya dan tersisa benang. Pemilik pakaian berkata, "Itu milikku," dan penenun berkata, "Itu milikku." Benang itu milik siapa? Ibrahim berkata, "Ibnu Juraij menceritakan kepadaku dari Atha' bahwa jika pemilik pakaian memberikannya sebagai pinjaman, maka benang itu miliknya, jika tidak, maka milik penenun." Di antara mereka ada yang memalsukan hadis untuk mencela orang yang ingin dicela, seperti yang kami riwayatkan dari Saad bin Tarif bahwa dia melihat anaknya menangis, lalu dia bertanya, "Ada apa denganmu?" Anaknya menjawab, "Guru memukulku." Dia berkata, "Demi Allah, saya akan mempermalukan mereka. Ikrimah menceritakan kepadaku dari Ibnu Abbas dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: 'Guru-guru anak-anak kalian adalah seburuk-buruk kalian'." Dikatakan kepada Ma'mun bin Ahmad Al-Atsari tentang Asy-Syafi'i dan pengikutnya di Khurasan, lalu dia berkata, "Ahmad bin Ubaidillah menceritakan kepada kami, Abdullah bin Ma'dan menceritakan kepada kami dari nas berkata, Rasulullah SAW bersabda, "Di antara umatku akan ada seorang pria bernama Muhammad bin Idris, yang lebih berbahaya bagi umatku daripada iblis," dan kami akan menyebutkan ini nanti.

Dikatakan kepada Muhammad bin Ukasha Al-Kirmani bahwa ada sekelompok orang yang mengangkat tangan mereka saat rukuk dan setelah mengangkat kepala dari rukuk, lalu dia berkata, "Al-Musayyib bin Wadih menceritakan kepada kami, Abdullah bin Al-Mubarak menceritakan kepada kami, dari Yusuf bin Yazid, dari Al-Zuhri, dari Anas, dia berkata, 'Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa mengangkat kedua tangannya saat rukuk, maka tidak ada salat baginya."

 Golongan 6 :

Sekelompok orang yang membuat hadis yang bertentangan dengan hadis gharib (asing/langka) agar hadis mereka dicari dan didengar. 

Abu Abdullah Al-Hakim berkata, di antara mereka adalah Ibrahim bin Al-Yasa', yaitu Ibn Abi Hubbah, yang biasa meriwayatkan hadis dari Ja'far Al-Sadiq dan Hisyam bin Urwah, lalu dia menumpuk hadis yang satu di atas hadis yang lain agar hadis-hadis tersebut terlihat asing dengan sanad-sanad tersebut.

Dia berkata, di antara mereka juga Hammad bin Amr Al-Nasibi, Bahlul bin Ubaid, dan Asram bin Haushab. Di antara mereka ada yang mengaku mendengar dari orang yang tidak pernah didengar darinya agar hadisnya banyak.

Amr bin Aun berkata, seorang syekh yang janggutnya diwarnai dengan henna datang kepada kami, meriwayatkan hadis dari Anas. Sekelompok besar orang berkumpul di sekelilingnya, lebih dari dua puluh ribu, dan hadisnya dibawa kepada Husyaim dan Yazid bin Harun. Mereka berkata, "Ini hadis sahih yang kami dengar dari Humaid dan Al-Taimi." Lalu syekh itu masuk pasar dan membeli kitab Maghazi (Perang) Ibnu Ishaq dan duduk meriwayatkannya. Mereka bertanya kepadanya, "Di mana kamu melihatnya?" Dia menangis dan berkata, "Kejujuran menghiasi segala sesuatu. Saya tidak melihatnya, tetapi Anas memberitahu saya tentang dia." Lalu mereka merobek kitab-kitab itu.

Muslim bin Al-Hajjaj meriwayatkan bahwa Yahya bin Aktsam masuk Homs bersama Amirul Mukminin, lalu dia melihat setiap orang di sana mirip dengan banteng. Seorang syekh masuk dengan jubah di kepalanya dan jenggot, lalu dia mendekatinya dan berkata, "Wahai syekh, dari siapa kamu mengambil (ilmu)?" Dia berkata, "Saya merasa cukup dengan semua orang melalui syekh saya." Dia berkata, "Siapa yang ditemui syekhmu?" Dia berkata, "Al-Auza'i." Dia berkata, "Al-Auza'i dari siapa?" Dia berkata, "Dari Makhul." Dari siapa? Dia berkata dari Sufyan bin Uyainah. Dia berkata dan Sufyan dari siapa? Dia berkata dari Aisyah, lalu Yahya berkata kepadanya: Wahai Syekh, saya melihat Anda mendaki ke bawah.

Golongan 7 :

Sekelompok orang yang merasa sulit menghafal, jadi mereka mengabaikan kritik waktu dan mungkin mengira hafalan itu sesuatu yang sudah diketahui, lalu mereka datang dengan hal-hal aneh yang mencapai tujuan mereka. Mereka ini terbagi dua: salah satunya adalah penceramah (قصاص), dan sebagian besar masalah berasal dari mereka, karena mereka menambahkan hadis yang menguatkan dan melembutkan hati, sementara hadis sahih jarang mengandung hal ini. Selain itu, menghafal sulit bagi mereka dan terkadang mereka tidak memiliki agama, dan orang-orang yang hadir di majelis mereka adalah orang bodoh. Dua ahli fikih yang terpercaya bercerita kepadaku tentang salah satu penceramah zaman kita yang menampakkan kesalehan dan ketakwaan, bahwa dia bercerita kepada mereka, katanya: Saya berkata pada hari Asyura, Rasulullah SAW bersabda: Barang siapa melakukan ini hari ini, dia mendapat ini, dan barang siapa melakukan itu, dia mendapat itu, sampai akhir majelis. Mereka berdua bertanya kepadanya: Dari mana Anda menghafal hadis-hadis ini? Dia menjawab: Demi Allah, saya tidak menghafalnya, dan saya tidak mengetahuinya, tetapi saya mengatakannya pada waktu itu juga.

Penulis berkata: Wajar saja; penceramah itu sangat tercela, jatuh martabatnya, orang-orang tidak memperhatikannya, dan dia tidak mendapatkan dunia maupun akhirat. Salah satu penceramah zaman kita telah menulis sebuah buku, di dalamnya dia menyebutkan bahwa Hasan dan Husain masuk menemui Umar bin Khattab RA, sementara dia sedang sibuk. Ketika dia selesai dari pekerjaannya, dia mengangkat kepalanya dan melihat mereka berdua, lalu dia berdiri, mencium mereka, dan memberi masing-masing seribu dirham, seraya berkata: Maafkan saya, saya tidak tahu kedatangan kalian. Mereka berdua kembali dan berterima kasih kepadanya di hadapan ayah mereka, Ali bin Abi Thalib RA. Ali berkata: Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: Umar bin Khattab adalah cahaya dalam Islam dan pelita bagi ahli surga. Mereka berdua kembali dan menceritakan hal itu kepadanya, lalu dia meminta tinta dan kertas dan menulis: Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, diceritakan kepadaku oleh dua pemimpin pemuda ahli surga, dari ayah mereka yang diridai (Ali), dari kakek mereka yang terpilih (Nabi Muhammad), bahwa dia bersabda: Umar adalah cahaya Islam di dunia dan pelita ahli surga di surga. Dia berpesan agar tulisan itu diletakkan di kafan di dadanya, lalu diletakkanlah. Ketika pagi tiba, mereka menemukannya di atas kuburnya, dan di dalamnya tertulis: Hasan dan Husain benar, ayah mereka benar, dan benar pula Rasulullah   Umar adalah cahaya Islam dan pelita bagi penghuni surga.

Penulis berkata : Sungguh mengherankan orang yang begitu berani mengarang hal seperti ini, dan tidak cukup baginya, ia bahkan menunjukkannya kepada para fuqaha (ahli hukum Islam) senior, lalu mereka menulis pengesahan atas karangan itu. Baik dia maupun mereka tidak tahu bahwa hal seperti ini mustahil. Ini adalah kebodaan yang merata, yang menunjukkan bahwa dia adalah salah satu orang yang paling bodoh, yang belum pernah mencium aroma ilmu naql (ilmu agama berdasarkan riwayat), dan mungkin dia mendengarnya dari beberapa penceramah jalanan.

Penulis berkata: Saya telah menyebutkan dalam kitab Al-Qashash (Kisah-kisah) sebagian dari hal-hal ini dari mereka, dan betapa seringnya hadis-hadis yang disebutkan oleh para penceramah zaman ini disampaikan kepada saya di majelis nasihat, lalu saya menolaknya dan menjelaskan bahwa itu mustahil, sehingga mereka mendendam kepada saya ketika saya menjelaskan aib pekerjaan mereka, sampai suatu hari saya berkata, katakanlah bahwa orang yang meriwayatkan hadis-hadis ini tidak akan bisa melakukannya selama ada kritikus ini yang membedakan mana yang asli dan palsu. Dan saya menyebutkan sebuah hadis yang diriwayatkan kepada kami oleh Abu Al-Fath Al-Karukhi, dia berkata, diriwayatkan kepada kami oleh Abdullah bin Muhammad Al-Anshari, dia berkata, diberitahu kepada kami oleh Ishaq bin Ibrahim, dia berkata, saya mendengar Abu Bakar Al-Jauzaqi berkata: Saya mendengar lebih dari satu guru kami menyebutkan dari Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah bahwa dia berkata, selama Abu Hamid Al-Sharqi masih hidup, tidak seorang pun dapat berbohong atas nama Rasulullah   .

Diberitahu kepada kami oleh Abu Mansur Abdul Rahman bin Muhammad Al-Qarrar, dia berkata, diberitahu kepada kami oleh Ahmad bin Ali bin Tsabit, dia berkata, diberitahu kepada kami oleh Qadhi Abu Al-Ala' Al-Wasithi, dia berkata, diberitahu kepada kami oleh Abu Ahmad Al-Husain bin Ali Al-Tamimi bahwa dia mendengar Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah melihat ke arah Abu Hamid Al-Sharqi, lalu berkata: Kehidupan Abu Hamid menghalangi orang-orang dari berbohong atas nama Rasulullah   .

Penulis berkata: Abu Hamid bernama Ahmad bin Muhammad bin Al-Hasan Al-Naisaburi, dikenal sebagai Ibn Al-Sharqi. Dia mendengar hadis dari Muslim bin Al-Hajjaj dan lainnya, dan dia adalah seorang hafiz (penghafal hadis) yang teliti.

Diberitahu kepada kami oleh Abu Al-Izz Ahmad bin Ubaidillah bin Kadish, dia berkata, saya mendengar Qadhi Abu Al-Husain Muhammad bin Ali bin Al-Fariq berkata, saya mendengar Abu Al-Hasan Al-Daraquthni berkata: Wahai penduduk Baghdad,  janganlah kalian mengira bahwa seseorang bisa berbohong atas nama Rasulullah SAW selama saya masih hidup.

Kami meriwayatkan dari Ibn Al-Mubarak bahwa ketika ditanya tentang hadis palsu, dia menjawab: "Para ahli hadis akan hidup untuk itu (memeriksanya)."

Bagian kedua: Para pengemis, di antaranya ada penceramah dan ada yang bukan penceramah. Di antara mereka ada yang memalsukan, dan kebanyakan mereka menghafal hadis palsu.

Muhammad bin Abdul Baqi Al-Bazzar mengabarkan kepada kami, dia berkata Hannad bin Ibrahim An-Nasafi mengabarkan kepada kami, dia berkata Yahya bin Ibrahim bin Muhammad Al-Muzakki mengabarkan kepada kami, dia berkata Az-Zubair bin Abdul Wahid mengabarkan kepada kami, dia berkata Ibrahim bin Abdul Wahid At-Thabari mengabarkan kepada kami, dia berkata saya mendengar Ja'far bin Muhammad At-Tayalisi berkata: Ahmad bin Hanbal dan Yahya bin Ma'in salat di Masjid Ar-Rasafah, lalu seorang penceramah berdiri di hadapan mereka dan berkata: Ahmad bin Hanbal dan Yahya bin Ma'in mengabarkan kepada kami, mereka berkata Abdul Razzaq mengabarkan kepada kami dari Ma'mar dari Qatadah dari Anas, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda: "Barang siapa mengucapkan 'La ilaha illallah' (Tiada Tuhan selain Allah), maka Allah akan menciptakan dari setiap kalimat itu seekor burung, paruhnya dari emas dan bulunya dari marjan." Dan dia menyebutkan kisah yang panjangnya sekitar dua puluh lembar. Ahmad bin Hanbal mulai memandang Yahya bin Ma'in, dan Yahya memandang Ahmad. Lalu Ahmad berkata kepadanya: "Apakah kamu yang meriwayatkan ini kepadanya?" Dia berkata: "Demi Allah, saya baru mendengarnya sekarang." Setelah penceramah selesai berceramah dan mengambil sedekah, lalu duduk menunggu sisanya, Yahya bin Ma'in memanggilnya dengan tangannya: "Kemarilah!" Dia datang dengan harapan mendapat hadiah. Yahya bertanya kepadanya: "Siapa yang meriwayatkan hadis ini kepadamu?" Dia menjawab: "Ahmad bin Hanbal." Yahya berkata: "Saya Yahya bin Ma'in dan ini Ahmad bin Hanbal, kami tidak pernah mendengar hadis ini sama sekali dari hadis Rasulullah SAW. Jika memang harus berbohong, maka jangan atas nama kami."

Penceramah itu bertanya kepadanya: "Apakah kamu Yahya bin Ma'in?" Dia menjawab: "Ya." Penceramah itu berkata: "Saya selalu mendengar bahwa Yahya bin Ma'in itu bodoh, dan saya baru yakin sekarang." Yahya bertanya kepadanya: "Bagaimana kamu tahu saya bodoh?" Dia menjawab: "Seolah-olah di dunia ini tidak ada Yahya bin Ma'in dan Ahmad bin Hanbal selain kalian berdua. Saya telah menulis (hadis) dari tujuh belas Ahmad bin Hanbal dan Yahya bin Ma'in." Maka Ahmad menutup wajahnya dengan lengan bajunya dan berkata: "Biarkan dia pergi." Lalu penceramah itu pergi sambil mengejek mereka berdua.

Muhammad bin Abdul Malik mengabarkan kepada kami dari Abu Muhammad Al-Jauhari dari Ad-Daruquthni dari Abu Hatim Al-Busti, dia berkata: Saya masuk ke Ajruwan, sebuah kota antara Raqqah dan Harran, lalu saya menghadiri masjid jami'. Setelah kami selesai salat, seorang pemuda berdiri di hadapan kami, lalu berkata: Abu Khalifah menceritakan kepada kami, dia berkata: Al-Walid menceritakan kepada kami, Syu'bah menceritakan kepada kami dari Qatadah dari Anas, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda: "Barang siapa memenuhi kebutuhan seorang Muslim, Allah akan melakukan ini dan itu kepadanya." Setelah dia selesai, saya memanggilnya, lalu saya bertanya: Apakah kamu pernah melihat Abu Khalifah? Dia menjawab: Tidak. Saya berkata: Bagaimana kamu meriwayatkan darinya padahal kamu tidak melihatnya? Dia menjawab: Sesungguhnya perdebatan dengan kami termasuk kurangnya sopan santun. Saya menghafal satu sanad ini dan setiap kali saya mendengar hadis, saya menggabungkannya ke sanad ini.


1] Dikutip dan dan diterjemahkan dari kitab al-Maudhu’at karya Ibnu al-Jauziy. Cet. Daar el-Fikr

2] Asketisme (dari bahasa Yunani: ἄσκησις, askesis) adalah praktik hidup yang menekankan pengendalian diri, kesederhanaan, dan pengorbanan diri untuk mencapai tujuan spiritual atau moral. Asketisme sering dikaitkan dengan agama-agama seperti Buddhisme, Hinduisme, dan Kristen, di mana para penganutnya melakukan praktik-praktik seperti puasa, meditasi, dan hidup sederhana untuk mencapai kesucian dan kebijaksanaan.

Comments

Popular posts from this blog

TUNTUNAN TAYAMUM SESUAI SUNNAH

TUNTUNAN WUDHU SESUAI SUNNAH