7 Cara Agar Hati Tenang Menurut Al-Qur'an dan Hadis Shahih

Image
  Oleh : Abu Fatwa Albani Syam (SAMSUDIN) Hati yang tidak tenang itu seperti kamar yang berantakan. Semua barang ada, tapi kita bingung mau duduk di mana. Banyak orang hari ini badannya di rumah mewah, tapi hatinya gelisah seperti di penjara. Allah SWT tidak membiarkan kita tanpa petunjuk. Ketenangan (As-Sakinah) itu bukan hadiah untuk orang yang tidak punya masalah, tapi untuk orang yang tau ke mana harus kembali saat masalah datang. 1. Dzikir - Obat Resmi dari Allah untuk Hati Gelisah Ini dalil fondasinya . Allah berfirman dengan jelas: الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ "Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd: 28) Ulama tafsir Ibnu Katsir menjelaskan, makna tathmainnul qulub di sini adalah hati menjadi hilang cemas dan resahnya, diganti dengan ketenangan yang dalam. Bukan dzikir c...

MUSTHALAH HADIS BAG 8

 Muhadharah  ke  8




HADIS HASAN LIGHAIRIHI

 

Oleh : Abu Fatwa Albani Syam

  (SAMSUDIN)

 

 

A. Definisi

Yaitu Hadis dha'if ringan (muhtamal) apabila jalur sanadnya banyak. Bisa juga dikatakan hadis hasan lighairih itu adalah hadis yang keadaan dha'ifnya ringan kemudian terbantu oleh yang dha'ifnya sama ringannya atau oleh yang lebih lumayan di atasnya.

 

B. Kedudukannya

Hadis hasan lighairih derajatnya lebih rendah dari hadis hasan li dzatihi. Oleh karena itu jika ada matan hadis hasan li ghairihi bertentangan dengan matan hadis hasan li dztihi, maka yang harus dikedepankan terlebih dahulu adalah hadis hasan li dzatihi.[1]

 

C.  Hukumnya

Hukum hadis hasan lighairihi adalah maqbul (diterima) bisa dijadikan hujjah.

 

D.  Contoh

 

Hr. al-Bazzar : 2651

 

حَدَّثنا مُحَمد بن مَعْمَر، حَدَّثنا جعفر بن عون: أَخْبَرَنَا سَلَمَةُ بْنُ وَرْدَانَ، قَالَ: سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يَقُولُ: ارْتَقَى النَّبِيّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيه وَسَلَّم عَلَى دَرَجَةٍ مِنَ الْمِنْبَرِ فَقَالَ: آمِينَ، ثُمَّ ارْتَقَى دَرَجَةً أُخْرَى فَقَالَ آمِينَ، ثُمَّ ارْتَقَى الثَّالِثة فَقَالَ: آمِينَ، ثُمَّ جَلَسَ قَالَ: فَسَأَلُوهُ: عَلامَ أَمَّنْتَ يَا رَسولَ اللهِ؟ قَالَ: أَتَانِي جِبْرِيلُ فقال: رغم أنف امرىء ذُكِرْتَ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْكَ قُلْتُ:آمِينَ وَرَغِمَ أَنْفُ امْرِئٍ أَدْرَكَ أَحَدَ أَبَوَيْهِ، أَوْ كِلاهُمَا فَلَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ. قُلْتُ: آمِينَ. وَرَغِمَ أنف امرىء أَدْرَكَ رَمَضَانَ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ. قُلْتُ: آمِينَ.

Telah menceritakan kepada kami, Muhammad bin Ma'mar, telah menceritakan kepada kami Ja'far bin 'Aun : telah mengabarkan kepada kami Salamah bin al-Wardan ia berkata : aku telah mendengar Anas bin Malik berkata : Nabi shallallahu alaihi wa sallam naik mimbar pada tangga pertama ia mengucapkan : amin. Kemudian naik lagi ke tangga berikutnya lalu mengucapkan : amin. Kemudian naik ke tangga ke tiga ia mengucapkan amin.


Pada hadis ini terdapat rawi bernama Salamah bin Wardan, ia rawi lemah dari segi hafalannya. Dan ia meriwayatkan hadis-hadis dari Anas tidak menyefakati hadis-hadis rawi-rawi tsiqat, akan tetapi ia termasuk dha'if muhtamal tidak parah. Dan ia dalam periwayatan hadis ini diikuti oleh Tsabit al-Banani, orang yang meriwayatkan dari dia yaitu Muammal bin Ismail sedangkan ia seorang rawi yang lemah pula pada hafalannya. Maka dengan demikian, hadis Salamah bin Wardan di atas dengan dibantu berbagai banyak jalan menjadi naik derajatnya menjadi hasan lighairihi.

 

 

 

 

 

 

 

[1] DR. Mahmud Thahan, Taysir Musthalah al-Hadis : 51

Comments

Popular posts from this blog

MUNCULNYA HADIS DHA’IF DAN PALSU

Tayamum yang Benar Sesuai Sunnah Nabi

HUKUM LAKI-LAKI MEMAKAI CINCIN EMAS