MUNCULNYA HADIS DHA’IF DAN PALSU

Image
  Abu Fatwa Albani ( S A M S U D I N ) Ketahuilah bahwa para perawi yang dalam hadis mereka terdapat kepalsuan, kedustaan, dan ketertukaran terbagi menjadi lima bagian   : Bagian I : Orang-orang yang didominasi oleh zuhud dan asketisme  sehingga mereka lalai dalam menghafal dan membedakan riwayat. Sebagian dari mereka kehilangan buku-bukunya, terbakar, atau terkubur, lalu mereka meriwayatkan dari hafalan sehingga terjadi banyak kesalahan. Bagian II : Orang-orang yang tidak memiliki keahlian dalam transmisi (nukilan) sehingga kesalahan mereka menjadi banyak dan buruk, mirip dengan bagian pertama. Bagian III : Orang-orang terpercaya (tsiqah) namun akal mereka bercampur baur (pikun) di akhir hayatnya, sehingga mereka mengacaukan riwayat. Bagian IV :   Orang-orang yang didominasi oleh kepolosan, yang di antaranya mudah didikte (talaqin) sehingga mengatakan apa saja yang disuruh. Sebagian dari mereka meriwayatkan hadis yang tidak pernah didengarnya karena menganggap itu b...

ILMU MUSTHALAH HADIS Bag 7

 

      Muhadharah  ke  7




HADIS DHA'IF

 

Oleh : Abu Fatwa Albani Syam

(Syamsudin Mukti)


 

A.  Definisi

Hadis Dha'if ialah hadis yang tidak berkumpul padanya sifat-sifat diterimanya hadis , yaitu hilangnya salahsatu syarat diantara syarat-syarat hadis shahih.

 

B. Syarat-Syarat Hadis shahih

 

1.     Sanadnya ada sampai kepada Nabi saw

2.    Bersambung sanadnya

3.    Rawi-rawinya 'Adil dan Dhabit[1]

4.    Tidak ada illat (cacat)

5.    Tidak ada syadz (tidak berlawanan dengan yang lebih kuat)

 

-   Apabila syarat yang pertama hilang/ tidak ada, maka keluar dari sebutan mansub (bersambung) kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam.

-       Apabila syarat yang kedua hilang, maka disebut hadisnya mursal.

-   Apabila syarat yang pertama dari syarat yang ke tiga hilang yaitu dari segi 'adilnya, maka disebut hadisnya matruk, atau maudhu'.

-    Apabila syarat yang ke dua dari syarat yang ke tiga hilang yaitu dari segi dhabitnya, maka disebut hadisnya dha'if, matruk, atau maudhu'. Tergantung sedikit dhabit rawinya.

-        Apabila syarat yang ke empat hilang, maka disebut hadisnya syadz.

-        Apabila syarat yang ke lima hilang, maka disebut hadisnya mu'allal.

 

C. Pembagian Dha'if

 

Hadis Dha'if ditinjau dari segi bobot kedha'ifannya terbagi kepada dua kelompok, yaitu Dha'if Muhtamal, dan Dha'if Syadid.

 

1.     Dha'if Muhtamal

Yaitu hadis yang kedha'ifnya tidak berat (ringan) yang dapat terangkat derajatnya menjadi "Hasan Lighairih". Seperti keadaan dha'if rawinya itu "yuktabu hadisuhu, wa laa yuhtaju bihim 'inda tafarrud" ( dicatat hadisnya, dan tapi tidak dijadikan hujjah dengannya ketika ia menyendiri meriwayatkan hadisnya), atau keadaan dha'ifnya itu munqath'i disebabkan mursal, atau tadlis.

 

2.    Dha'if Syadid

Yaitu hadis yang kedha'ifannya berat/ parah tidak ringan, maka tidak dapat terangkat walaupun terdapat mutaba'ah[2] (ada yang mengikutinya). Seperti keadaan rawinya " Muttahamman" (tertuduh dusta), Kadzdzab (pendusta), matruk lisu-I hifdzihi au likastrati ghalatihi (ditinggalkan sebab buruk hafalan atau sering keliru), atau Majhul a'in,[3] atau tidak dikenal.

 

D.Contoh hadis dha'if Syadid dari segi 'adalah

 

Hr. al-Khatib al-baghdadi, Bab Iqtidha-i al-Ilmi al-'Amal : 69.

 

عن أبي داود النخعي, حدثنا علي بن عبيد الله الغطفاني, عن سليك, قال : سمعت النبي . ص. يقول : إذا علم العالم و لم يعمل كان كالمصباح يضيْ للناس ويحرق نفسه.

Dari Abu Daud an-Nakhai, telah menceritakan kepada kami Ali bin Ubaidillah al-Ghathafani, dari Sulaik ia berkata : aku mendengar Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda : apabila seorang alim telah mengetahui ilmunya lalu dia tidak mengamalkannya, maka ia bagaikan lampu (lilin) yang menerangi manusia tetapi membakar dirinya sendiri.

 

Pada sanadnya hadis ini terdapat rawi bernama Abu Daud an-Nakhai, nama aslinya Sulaiman bin Amer. Berkata Imam Ahmad : adalah ia memalsukan hadis. Berkata Ibnu Ma'in : adalah ia sedusta-dusta manusia. Dan Ibnu Ma'in berkata dikesempatan lain : ia terkenal pendusta hadis. Berkata al-Bukhari : ia matruk (ditinggalkan), Qutaibah dan Ishaq menilainya dusta.[4]

 

Maka hadis ini dengan sanad tersebut di nilai Maudhu' (palsu), sebab kedha'ifan rawinya dari segi 'adalah.

 

E. Contoh hadis dha'if syadid dari segi Dhabitnya

 

Hr. Abu Nu'aim, Hilyatu al-Auliya : VIII : 252.

حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُحَمَّدٍ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُسَيِّبِ، ثنا عَبْدُ اللهِ بْنُ خُبَيْقٍ، ثنا يُوسُفُ بْنُ أَسْبَاطٍ، عَنِ الْعَرْزَمِيَّ، عَنْ صَفْوَانَ بْنِ سُلَيْمٍ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: " كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَكْرَهُ الْكَيَّ وَالطَّعَامَ الْحَارَّ , وَيَقُولُ: «عَلَيْكُمْ بِالْبَارِدِ فَإِنَّهُ ذُو بَرَكَةٍ أَلَا وَإِنَّ الْحَارَّ لَا بَرَكَةَ فِيهِ , وَكَانَتْ لَهُ مُكْحُلَةٌ يَكْتَحِلُ مِنْهَا عِنْدَ النَّوْمِ ثَلَاثًا ثَلَاثًا»

Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Muhammad, telah mneceritakan kepada kami Muhammad bin al-Musayyab, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Khubaik, telah menceritakan kepada kami Yusuf bin Asbath, dari Muhammad bin Ubaidillah al-Arzami, dari Shafwan bin Sulaim, dari Anas bin Malik ia berkata : Dingikanlah oleh kalian, karena sesungguhnya dingin itu mengandung barokah, ketahuilah sesungguhnya panas itu tidak mengandung barokah.

 

Pada sanad hadis ini terdapat rawi bernama Muhammad bin Ubaidillah al-'Arzami, dia itu matruk (ditinggalkan) dari segi hafalannya. Padahal ia seorang yang shalih. Tetapi semua kitab-kitabnya hilang dan ia menghadiskan mengandalkan hafalannya, ia meriwayatkan hadis-hadis yang tidak diikuti oleh rawi-rawi tsiqat, maka para ahli ilmu meninggalkan dia.[5]



[1]  Penjelasan tentang ini sudah dijelaskan di muhadharah yang ke 3

[2]  Istilah ini insyaa Allah akan diterangkan pada bab yang akan datang

[3]  Ibid,

[4]  Taisir Ulum al-Hadis : I : 41.

[5] Ibid,

Comments

Popular posts from this blog

TUNTUNAN TAYAMUM SESUAI SUNNAH

TUNTUNAN WUDHU SESUAI SUNNAH

MUNCULNYA HADIS DHA’IF DAN PALSU