7 Cara Agar Hati Tenang Menurut Al-Qur'an dan Hadis Shahih

Image
  Oleh : Abu Fatwa Albani Syam (SAMSUDIN) Hati yang tidak tenang itu seperti kamar yang berantakan. Semua barang ada, tapi kita bingung mau duduk di mana. Banyak orang hari ini badannya di rumah mewah, tapi hatinya gelisah seperti di penjara. Allah SWT tidak membiarkan kita tanpa petunjuk. Ketenangan (As-Sakinah) itu bukan hadiah untuk orang yang tidak punya masalah, tapi untuk orang yang tau ke mana harus kembali saat masalah datang. 1. Dzikir - Obat Resmi dari Allah untuk Hati Gelisah Ini dalil fondasinya . Allah berfirman dengan jelas: الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ "Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd: 28) Ulama tafsir Ibnu Katsir menjelaskan, makna tathmainnul qulub di sini adalah hati menjadi hilang cemas dan resahnya, diganti dengan ketenangan yang dalam. Bukan dzikir c...

Bolehkah membaca lebih dari satu surat dalam satu rakaát ?

                        
 Oleh : Abu Fatwa Albani
                                                                     (Syamsudin Mukti)



 
Prinsip dasar dalam ibadah itu diam tidak mengamalkan sebelum ada dalil yang mengizinkannya baik berupa qauliyah, fi’liyah atau taqririyah (persetujuan) rasulullah shallallahu álaihi wa sallam. Berbeda halnya dengan urusan muamalah prinsip dasar muamalah itu bekerja dulu baru berhenti setelah ditemukan dalil larangan. Adapun kaitan dengan permasalahan yang sedang dipertanyakan ini adalah termasuk ranah ibadah maka seyogyanya harus berdasarkan dalil naqli al-Quran atau as-Sunnah.

Baiklah kita perhatikan riwayat berikut mengenai shalat malamnya rasulullah shallallahu álaihi wa sallam ;


عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ فَافْتَتَحَ الْبَقَرَةَ فَقُلْتُ يَرْكَعُ عِنْدَ الْمِائَةِ ثُمَّ مَضَى فَقُلْتُ يُصَلِّي بِهَا فِي رَكْعَةٍ فَمَضَى فَقُلْتُ يَرْكَعُ بِهَا ثُمَّ افْتَتَحَ النِّسَاءَ فَقَرَأَهَا ثُمَّ افْتَتَحَ آلَ عِمْرَانَ فَقَرَأَهَا يَقْرَأُ مُتَرَسِّلًا إِذَا مَرَّ بِآيَةٍ فِيهَا تَسْبِيحٌ سَبَّحَ وَإِذَا مَرَّ بِسُؤَالٍ سَأَلَ وَإِذَا مَرَّ بِتَعَوُّذٍ تَعَوَّذَ ثُمَّ رَكَعَ فَجَعَلَ يَقُولُ سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيمِ فَكَانَ رُكُوعُهُ نَحْوًا مِنْ قِيَامِهِ ثُمَّ قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ ثُمَّ قَامَ طَوِيلًا قَرِيبًا مِمَّا رَكَعَ ثُمَّ سَجَدَ فَقَالَ سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى فَكَانَ سُجُودُهُ قَرِيبًا مِنْ قِيَامِهِ قَالَ وَفِي حَدِيثِ جَرِيرٍ مِنْ الزِّيَادَةِ فَقَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْد.
Dari [Hudzaifah] ia berkata; Pada suatu malam, saya shalat (Qiyamul Lail) bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, lalu beliau mulai membaca surat Al Baqarah. Kemudian saya pun berkata (dalam hati bahwa beliau) akan ruku' pada ayat yang ke seratus. Kemudian (seratus ayat pun) berlalu, lalu saya berkata (dalam hati bahwa) beliau akan shalat dengan (surat itu) dalam satu raka'at. Namun (surat Al Baqarah pun) berlalu, maka saya berkata (dalam hati bahwa) beliau akan segera sujud. Ternyata beliau melanjutkan dengan mulai membaca surat An Nisa` hingga selesai membacanya. Kemudian beliau melanjutkan ke surat Ali Imran hingga selesai hingga beliau selesai membacanya. Bila beliau membaca ayat tasbih, beliau bertasbih dan bila beliau membaca ayat yang memerintahkan untuk memohon, beliau memohon, dan bila beliau membaca ayat ta'awwudz (ayat yang memerintahkan untuk memohon perlindungan) beliau memohon perlindungan. Kemudian beliau ruku'. Dalam ruku', beliau membaca: "SUBHAANA RABBIYAL 'AZHIIM." Dan lama beliau ruku' hampir sama dengan berdirinya. Kemudian beliau membaca: "SAMI'ALLAHU LIMAN HAMIDAH." Kemudian beliau berdiri dan lamanya berdiri lebih kurang sama dengan lamanya ruku'. Sesudah itu beliau sujud, dan dalam sujud beliau membaca: "SUBHAANA RABBIYAL A'LAA.Sementara di dalam hadits Jarir terdapat tambahan; Beliau membaca: "SAMI'ALLAHU LIMAN HAMIDAH RABBANAA LAKAL HAMDU." Hr. Muslim : 1291.[1]



 Dari hadis tersebut dapat disimpulkan bahwa :

1.  Rasul membaca surat al-Baqarah, an-Nisa dan Ali Imran pada qiyam (berdiri) rakáat pertama setelah membaca al-Fatihah.
2.    Rasul mendahulukan membaca surat an-Nisa daripada surat Ali Imran
3.    Lama rukuk, i’tidal dan sujudnya rasul sama seperti lamanya ketika beliau qiyam.
4.    Rasul bertasbih manakala lewat atas ayat tasbih
5. Rasul memohon kepada Alloh manakala lewat atas ayat yang memerintahkan permohonan.
6.    Rasul meminta perlindungan (taáwwudz) manakala lewat atas ayat yang memerintahkan utntuk memohon perlindungan.


Maka dengan hadis ini dapat ditarik sebuah kesimpulan hukum bahwa :

1.     Sunat membaca lebih dari satu surat dalam satu rokaát.
2.    Boleh membaca surat tidak sesuai dengan urut surat
3.    Sunat mengulang-ulang bacaan rukuk, i’tidal dan sujud sampai tidak ada batas bilangan
4.    Boleh mengucapkan tasbih, taáwudz atau memohon permintaan kepada Allah ketika lewat kepada ayat yang memerintahkan hal itu.

Para ulama terdahulu yang berpendapat seperti di atas yaitu Imam Syafií dan kawan-kawannya, al-Auzaí, Abu Hanifah dan orang-orang Kuffah, Ahmad dan Jumhur.[2]

 Wallahu A'lam.



Maraji’:
[1] Tirmidzi ; 262. Nasai ; 1008, 1009, 1046, 1069. Abu Daud : 871, 874. Ibnu  Majah ; 888, 897, 1351. Ahmad : 22729, 22789, 22800.
[1] asy-Syaukani, Nailul Authar Syarh Muntaqa al-Ahbar : II : 228, 229.




Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

MUNCULNYA HADIS DHA’IF DAN PALSU

Tayamum yang Benar Sesuai Sunnah Nabi

HUKUM LAKI-LAKI MEMAKAI CINCIN EMAS